Anthrax, Penyakit Bersifat Zoonosis yang Berbahaya!

Korsatani – Anthrax merupakan salah satu penyakit yang bersifat zoonosis, endemi di beberapa wilayah di Indonesia, bersifat sporadis dan perlu diwaspadai. Penyebaran penyakit ini cukup luas di dunia sedangkan di indonesia tercatat ada 15 provinsi yang mengalami kejadian penyakit antraks. Pertama kali di Indonesia terjadi pada tahun 1885.

Anthrax yang sering juga disebut radang limpa menyerang hewan khususnya ruminansia (sapi, kerbau, domba, kambing), dan hewan menyusui lainnya. Penyakit ini relatif membahayakan manusia dan berdampak pada kerugian ekonomi. Antraks juga banyak mendapat perhatian karena di masa lalu sering digunakan untuk perang biologi, dengan cara menyebarkan spora melalui udara sehingga menyebarkan penyakit.

Penyebab Penyakit Anthrax

Penyebab penyakit anthrax adalah Bacillus anthracis. Bakteri ini dapat membentuk spora yang bisa bertahan hidup hingga berpuluh-puluh tahun di tanah, tahan terhadap kondisi lingkungan panas, dan bahan kimia atau desinfektan. Oleh sebab itu, hewan yang mati karena penyakit anthrax dilarang dilakukan pembedahan karena akan membuka peluang bagi microorganisme untuk membentuk spora.

Penyakit ini menyebar ke seluruh dunia terutama yang beriklim tropis.

Penularan Penyakit

Infeksi pada hewan ini dapat berasal dari tanah yang tercemar oleh bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini masuk ke tubuh hewan melalui luka, terhirup bersama udara dan tertelan. Pada manusia, biasanya terjadi karena perantara luka, dapat pula melalui pernafasan dan memakan daging hewan penderita anthrax.

Tanda-Tanda Penyakit

Penderita antrax memiliki tanda, kematian mendadak dan adanya pendarahan pada lubang hidung, lubang anus, pori-pori kulit). Hewan mengalami kesulitan bernafas, demam tinggi, gemetar, berjalan sempoyongan, kondisi lemah, ambruk dan kematian secara cepat. Pada kuda gejalanya biasanya kronis dan menyebabkan kebengkakan pada tenggorokan. Sedangkan pada manusia dapat terjadi luka pada kulit dan kematian mendadak.

Pencegahan dan Pengobatan Anthrax

Program terbaik untuk mencegah penyakit ini adalah dengan dilakukannya vaksinasi secara teratur setiap tahun terutama di daerah endemi anthrax. Beberapa vaksin sudah ditemukan dan dikenal secara luas namun pemakaiannya harus pada prosedur Good Veterinary Practices yang baik dan terkontrol.

Vaksinasi dilakukan satu tahun sekali dengan menggunakan vaksin spora anthrax (hidup) galur 34 F2 (streme strain) yang berkapsul produksi Pusar Veterinary Surabaya.

Dosis yang dianjurkan, untuk sapi atau kerbau adalah 1ml/ekor sedangkan untuk kambing dan domba adalah 0,5ml/ekor.

Pengobatan penyakit anthrax sebetulnya tidak menguntungkan untuk strategi pengendalian jangka panjang. Ternak yang terserang penyakit ini akan tertolong jika ditangani dengan cepat menggunakan antibiotika seperti penisilin, tetrasiklin, streptomisin dan antibiotika lainnya. Antibiotika tersebut juga sering digunakan pada orang yang secara klinis terkontaminasi anthrax.

Meski demikian spora yang ada akan sulit dimusnahkan. Daerah yang terserang sebaiknya dibebaskan dari ternak sementara dan lakukan sanitasi dan fumigasi sekala besar. Hewan yang mati tersangka anthrax sangat dilarang untuk dibuka bangkainya. Bangkai harus dibakar atau dikubur dalam lubang sedalam 2 meter kemudian diberi desinfektan.

Begitu pula produk-produk hasil ternak seperti susu, daging dan lainnya dilarang dibawa keluar wilayah tersebut.

Dikarenakan penyakit anthrax bersifat zoonosis (penyakit yang ditularkan antara hewan dan manusia) yang sangat berbahaya, oleh karena itu hewan penderita penyakit ini sangat dilarang untuk dipotong dan dikonsumsi.

Picture source: freepik.com

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *